“Ilir-ilir, ilir-ilir
tandure wus sumilir
tak ijo royo-royo
tak sengguh temanten anyar”

“Bocah angon, bocah angon
penekno blimbing kuwi
lunyu-lunyu penekno
kanggo mbasuh dodot-iro”

Dalam syair ilir-ilirnya, Kanjeng Sunan tidak memilih para Jenderal, Intelektual-intelektual, Ulama-ulama, Seniman-seniman,Sastrawan-sastrawan atau apapun tetapi “Cah Angon-Cah Angon”. Tidak memilih pohon lain untuk dipanjat selain “pohon belimbing bergerigi lima” (terserah apa tafsirmu mengenai lima).
Dan yang harus memanjat adalah “Bocah Angon” anak gembala… Tentu saja, ia bisa siapa saja asalkan mempunyai “Daya Angon”. Daya menggembalakan, kesanggupan untuk ‘ngemong’ semua pihak.  Karakter  untuk merangkul dan memesrai siapa saja, sesama saudara sebangsa.

Determinasi  yang menciptakan garis resultan kedamaian bersama, memancarkan kasih sayang yang dibutuhkan dan diterima semua warna, semua golongan, semua kecenderungan.

“Bocah Angon” adalah seorang Pemimpin Nasional, bukan tokoh golongan atau pemuka suatu gerombolan

“Dodot-iro, dodot-iro
kumitir bedhah ing pinggir
dondomono, jlumatono
kanggo sebo mengko sore”

Walau Selicin apapun pohonnya, “Sang Bocah Angon” harus memanjat sampai selamat untuk mengambil buahnya. Bukan menebang, merobohkan dan memperebutkannya. Dan air saripati belimbing gerigi lima tersebut dipergunakan untuk mencuci “pakaian nasional”.

Pakaian adalah akhlak, pakaian adalah sesuatu yang menjadikan manusia bukan binatang. Jika tak percaya, berdirilah didepan pasar dan copotlah pakaianmu, maka kan hilanglah segala harkatmu sebagai manusia. Pakaianlah yang membuat manusia bernama manusia. Pakaian adalah pegangan nilai, landasan moral dan sistem.

“Mumpung padhang rembulane
mumpung jembar kalangane”

“Yo surak’o… surak hiyo…”

Kita memang sudah lir-ilir, sudah ngelilir (bangkit/bangun dari tidur) selama 30 tahun  atau bahkan lebih lama dari itu. Kita memang sudah bangkit, beribu-ribu kaum muda berjuta-juta rakyat sudah bangkit keluar rumah dan memenuhi jalanan, membanjiri semangat kemerdekaan yang sudah terlalu lama diidamkan.

Akan tetapi, mungkin karena terlalu lama kita tidak merdeka, sekarang kita tidak begitu mengerti bagaimana mengerjakan kemerdekaan, sehingga tidak paham mana beda antar demokrasi dan anarki.

Terlalu lama kita tidak boleh berpikir, lantas sekarang hasil pikiran kita keliru-keliru. Sehingga kita tidak bisa membedakan mana asap, mana api, mana emas, mana loyang, mana nasi dan mana tinja.

Terlalu lama kita dalam ketidakmenentuan nilai, lantas sekarang semakin kabur atas nilai-nilai dalam diri kita sendiri. Sehingga yang dijadikan pedoman kebenaran hanyalah kemauan kita sendiri, nafsu kita sendiri, kepentingan kita sendiri.

Terlalu lama kita hidup dalam kegelapan, sehingga kita tidak mengerti bagaimana melayani cahaya, tidak becus mengurusi bagaimana cahaya terang. Dalam kegelapan gerhana rembulan yang membikin kita buntu sekarang, kita junjung-junjung pengkhianat, kita buang-buang para pahlawan, kita bela kelicikan dan kita curigai kelicikan……

[renungan ilir-ilir: emha ainun nadjib]

Depok, 2010
“Khusu menulis dan tafakur merasapi syair dalam keremangan cahaya”