Archive for Mei, 2011

Tawadhu-ku


Ya Allah, Cobaan apa lagi ini
Walau kubersyukur tabir terbuka
Doaku tlah terjawab
Namun, Kenapa selalu harus disaat segalanya mudah
Inikah bagian dari ujianku
Ya Allah, inikah awal ujian terberatku?

Apa aku sanggup ya Allah?

Kumohon jangan Kau menjauh dariku
Walau disaat kumurka kepada-Mu sekalipun

Jagalah aku dengan malaikat2-Mu
Sirami akhlakku dengan Nur Nabi Muhammad
Beri aku ketabahan layaknya Nabi Ayub
Beri aku Kesabaran layaknya Nabi Musa
Beri aku Keikhlasan Layaknya Nabi Ibrahim
Basuh ragaku dengan keteguhan Nabi Yusuf

Aku bersujud dan berserah diri pada-Mu
Berikan petunjuk-Mu
Ketika seluruh ikhtiar kucurahkan semata-mata karena-Mu
Aku tahu Kau Maha Mengetahui apa yang tak ku ketahui
Kau Maha Menentukan apa yang tak bisa kutentukan
Tunjukkan jalan bagiku
Istiqomahkan langkahku

Amin,

Iklan

BATAS – antara keinginan dan kenyataan


antara keinginan dan kenyataan Jaleswari (Marcella Zalianty), dengan ambisi dan kepercayaan diri yang penuh, mengajukan diri untuk mengambil tanggung jawab memperbaiki kinerja program CSR bidang pendidikan yang terputus tanpa kejelasan. Dia menyanggupi masuk ke daerah perbatasan di pedalaman Kalimantan dan menjanjikan dalam dua minggu ketidakjelasan itu dapat diatasi.

Ternyata suatu kehendak belum tentu sejalan dengan dengan kenyataan. Daerah perbatasan di pedalaman Kalimantan memiliki pola kehidupannya sendiri. Mereka memiliki titik pandang yang berbeda dalam memaknai arti garis perbatasan. Mereka tidak terlalu perduli tentang kawasan batas negara. Mereka hidup dengan kesadaran wawasan budaya Dayak yang tidak terpisahkan oleh demarkasi batas politik. Peristiwa kehidupan yang unik membawa Jaleswari dalam situasi yang pelik. Konflik batin terjadi ketika dia terperangkap pada masalah kemanusiaan yang jauh lebih menarik dan menyentuh dibanding data perusahaan yang sangat teoritis dan teras kering karena pada hakekatnya masalah rasa sangat relatif dan memiliki kebenaran yang berbeda.

Jaleswari berada dalam tapal batas pilihan. Karisma hutan dan pola hidup masyarakat telah menyadarkan dirinya bahwa upaya memperbaiki kehidupan masyarakat tidak bisa dipisahkan dengan adat istiadat setempat. Peristiwa kehidupan manusia yang melanggar adat dan mampu menyengsarakan sesamanya tergelar jelas di depan mata. Jaleswari sangat memahami Adeus, seorang guru yang dipercayakan menjalankan program pendidikan, kini menjadi pribadi pendiam dan apatis, karena sistem pendidikan yang diinginkan perusahaan di Jakarta tidak sesuai dengan keinginan masyarakat. Masyarakat lebih memilih untuk menjadi tenaga kerja yang dijanjikan jadi kaya oleh penjual jasa bernama Otik. Salah satu korbanya adalah Ubuh (Ardina Rasti), pekerja TKI yang melarikan diri dari negara tetangga. Oleh masyarakat Dayak di sana, Ubuh tak hanya memperoleh perlindungan namun juga kehangatan dan keramahan yang perlahan membuatnya berangsur pulih dari trauma.

Tragedi kemanusiaan ini, merubah pemikiran Jaleswari. Semua peristiwa terjadi di depan matanya. Jiwanya goncang dan Panglima Dayak (Piet Pagau), kepala suku menuntunnya memahami ‘bahasa hutan’ yang mengetengahkan rasa hormat dan cinta untuk tidak merusak, dan malah sebaliknya menjaga dan meningkatkan harkat manusia dan lingkungan kehidupannya. Langkah Jaleswari sangat membantu Arif (Arifin Putra) sebagai instrumen negara yang dalam penyamaran dan ditugaskan di wilayah perbatasan.

%d blogger menyukai ini: