Archive for Maret, 2009

Mati Suri


ARRGH!!!!!!!!!!!!!!
Kosong!
Hampa!
Gak bisa berpikir!

Pengin lari dari keramain hiruk pikuk!
Menyepi,sendiri dan merenungi hidup yang telah dilewati
Hari ini!
Aku Mati suri!

Selasa, 24 maret 209 ; pukul 10:59

Iklan

Rahasiaku dan Kamu


RHS
Rahasia…..ketika terkuak, musuh dalam dirimu kan bangkit
Setujukah? atau kau kan berjalan tanpa menoleh waktu yang terlewat

RHS,
Rahasia……semoga terjaga sampai akhir hayatnya
Ketika musnah? mampukah kita menyiramnya dengan mata air surga

RHS,
Rahasia……terbakar karena sang mentari kian terik menusuk dan tembus tulang rusukku
Ketika patah? semoga tidak merusak tulang sumsumku yang rapuh

RHS,
Rahasia….. mulut ini keluh tak bernyawa menahan gejolak jiwa
Ketika berkata? kan kuatur iramanya dalam batin

Rahasia, sebuah misteri tentang pertentangan jiwa
Terungkap dalam kaca tanpa bayang
Tergambar dalam keruhnya air kolam
Tergores dalam tinta penuh goresan tanpa makna
Terkenang dalam pasir laut yang tergerus tanpa bekas
Terkenang dalam memori kamera tanpa data
Terucap dalam kata tanpa laksana
Terdiam dalam heningnya malam kelam tanpa sinar bulan
Terbius dalam aroma nafsu tanpa nafas
Tercatat dalam batin tanpa suara

Rahasia, sampai kapan kau mampu menjaganya?
Sampai kapan kau mampu memikulnya?
Tanyalah ketika bulan masih memancarkan sinar
Dan bintang yang bersinar tanpa mendung yang menyelimuti kelamnya malam

Musuh Terbesar adalah Diri Sendiri


Hidup itu pilihan katanya, tetapi saat-saat menentukan pilihan itulah pekerjaan/tantangan yang paling berat. Berbagai pertimbangan, berbagai masukan terkadang meringankan atau malah sebaliknya semakin memberatkan neraca masing-masing pilihan.

Disatu sisi, semua pasti memiliki kelebihan dan kekurangan.

Saat-saat seperti itu ada kalanya kita gencar bertemu dan memerangi musuh yang paling kuat dan hebat. Musuhnya siapa? Ya EGO yang dalam diri kita sendiri.

Orang yang berpikir pendek kadang sampai harus bunuh diri. Saya juga berpikir bunuh diri. Bunuh diri tidak semata-mata diartikan mengakhiri hidup. Bunuh diri yang dimaksud adalah membunuh EGO dalam diri sendiri. Namun tak bisa. Paling tidak sudah ada usaha untuk mengurangi dominasi EGO yang berusaha mengkudeta diri saya.

Ternyata tak mudah menemukan persembunyiannya, pertama musuh ini semu tapi nyata. Semu karena memang tidak berwujud, nyata karena memang ada dalam diri kita. Kedua, tak semudah membalikan telapak tangan untuk mengurangi EGO seseorang.

Thank’s to Annot[dot]com atas tulisan menariknya…….

Filosofi Pensil


“Setiap orang membuat kesalahan. Itulah sebabnya, pada setiap pensil ada penghapusnya” (Pepatah Jepang)

Kali ini saya ingin menceritakan kepada Anda sebuah kisah penuh hikmah dari sebatang pensil. Dikisahkan, sebuah pensil akan segera dibungkus dan dijual ke pasar. Oleh pembuatnya, pensil itu dinasihati mengenai tugas yang akan diembannya. Maka, beberapa wejangan pun diberikan kepada si pensil. Inilah yang dikatakan oleh si pembuat pensil tersebut kepada pensilnya.

Wahai pensil, tugasmu yang pertama dan utama adalah membantu orang sehingga memudahkan mereka menulis. Kamu boleh melakukan fungsi apa pun, tapi tugas utamamu adalah sebagai alat penulis. Kalau kamu gagal berfungsi sebagai alat tulis. Macet, rusak, maka tugas utamamu gagal”.

Kedua, agar dirimu bisa berfungsi dengan sempurna, kamu akan mengalami proses penajaman. Memang meyakitkan, tapi itulah yang akan membuat dirimu menjadi berguna dan berfungsi optimal”.

“Ketiga, yang penting bukanlah yang ada di luar dirimu. Yang penting, yang utama dan yang paling berguna adalah yang ada di dalam dirimu. Itulah yang membuat dirimu berharga dan berguna bagi manusia”.

“Keempat, kamu tidak bisa berfungsi sendirian. Agar bisa berguna dan bermanfaat, maka kamu harus membiarkan dirimu bekerja sama dengan manusia yang menggunakanmu” .

“Kelima. Di saat-saat terakhir, apa yang telah engkau hasilkan itulah yang menunjukkan seberapa hebatnya dirimu yang sesungguhnya. Bukanlah pensil utuh yang dianggap berhasil, melainkan pensil-pensil yang telah membantu menghasilkan karya terbaik, yang berfungsi hingga potongan terpendek. Itulah yang sebenarnya paling mencapai tujuanmu dibuat”.

Sejak itulah, pensil-pensil itu pun masuk ke dalam kotaknya, dibungkus, dikemas, dan dijual ke pasar bagi para manusia yang membutuhkannya.

Pembaca, pensil-pensil ini pun mengingatkan kita mengenai tujuan dan misi kita berada di dunia ini. Saya pun percaya bahwa bukanlah tanpa sebab kita berada dan diciptakan ataupun dilahirkan di dunia ini. Yang jelas, ada sebuah purpose dalam diri kita yang perlu untuk digenapi dan diselesaikan.

Sama seperti pensil itu, begitu pulalah diri kita yang berada di dunia ini. Apa pun profesinya, saya yakin kesadaran kita mengenai tujuan dan panggilan hidup kita, akan membuat hidup kita menjadi semakin bermakna.

Hilang arah

Tidak mengherankan jika Victor Frankl yang memopulerkan Logoterapi, yang dia sendiri pernah disiksa oleh Nazi, mengemukakan “tujuan hidup yang jelas, membuat orang punya harapan serta tidak mengakhiri hidupnya”. Itulah sebabnya, tak mengherankan jika dikatakan bahwa salah satu penyebab terbesar dari angka bunuh diri adalah kehilangan arah ataupun tujuan hidup. Maka, dari filosofi pensil di atas kita belajar mengenai lima hal penting dalam kehidupan.

Pertama, hidup harus punya tujuan yang pasti. Apapun kerja, profesi atau pun peran yang kita mainkan di dunia ini, kita harus berdaya guna. Jika tidak, maka sia-sialah tujuan diri kita diciptakan. Celakanya, kita lahir tanpa sebuah instruksi ataupun buku manual yang menjelaskan untuk apakah kita hadir di dunia ini. Pencarian akan tujuan dan panggilan kita, menjadi tema penting selama kita
hidup di dunia.

Yang jelas, kehidupan kita dimaknakan untuk menjadi berguna dan bermanfaat serta positif bagi orang-orang di sekitar kita, minimal untuk orang-orang terdekat. Jika tidak demikian, maka kita useless.
Tidak ada gunanya. Sama seperti sebatang pensil yang tidak bias dipakai menulis, maka ia tidaklah berguna sama sekali.

Kedua, akan terjadi proses penajaman sehingga kita bisa berguna optimal, oleh karena itulah, sering terjadi kesulitan, hambatan ataupun tantangan. Semuanya berguna dan bermanfaat sehingga kita selalu belajar darinya untuk menjadi lebih baik. Ingat kembali soal Lee Iacocca, salah satu eksekutif yang justru menjadi besar dan terkenal, setelah dia didepak keluar dari mobil Ford. Pengalaman itu justru menjadi pemacu semangat baginya untuk berhasil di Chrysler.

Ingat pula, Donald Trump yang sempat diguncang masalah finansial dan nyaris bangkrut. Namun, kebangkrutannya itulah yang justru menjadi pelajaran dan motivasi baginya untuk sukses lebih langgeng. Kadang penajaman itu ‘sakit’. Namun, itulah yang justru akan memberikan kesempatan kita mengeluarkan yang terbaik.

Ketiga, bagian internal diri kitalah yang akan berperan. Saya sering menyaksikan banyak artis, ataupun bintang film yang terkenal, justru yang hebat bukanlah karena mereka paling cantik ataupun paling tampan. Tetapi, kemampuan dalam diri mereka, filosofi serta semangat merekalah yang membuat mereka menjadi luar biasa. Demikian pula pada diri kita. Pada akhirnya, apa yang ada di dalam diri kita seperti karakter, kemampuan, bakat, motivasi, semangat, pola pikir itulah yang akan lebih berdampak daripada tampilan luar diri kita.

Keempat, pensil pun mengajarkan agar bisa berfungsi sempurna kita harus belajar bekerja sama dengan orang lain. Bayangkanlah seorang aktor atau aktris yang tidak mau diatur sutradaranya. Bayangkan seorang anak buah yang tidak mau diatur atasannya. Ataupun seorang service provider yang tidak mau diatur oleh pelanggannya. Mereka semua tidak akan berfungsi sempurna. Agar berhasil, kadang kita harus belajar dari pensil untuk ‘tunduk’ dan membiarkan diri kita berubah menjadi alat yang sempurna dengan belajar dan mendengar dari ahlinya. Itulah sebabnya, kemampuan untuk belajar bekerja sama dengan orang lain, mendengarkan orang lain, belajar dari ‘guru’ yang lebih tahu adalah sesuatu yang membuat kita menjadi lebih baik.

Terakhir, pensil pun mengajarkan kita meninggalkan warisan yang berharga melalui karya-karya yang kita tinggalkan. Tugas kita bukan kembali dalam kondisi utuh dan sempurna, melainkan menjadikan diri kita berarti dan berharga. Itulah filosofi ‘memberi dan melayani’ yang diajarkan oleh Tuhan kita. Yang penting, hingga pada akhir kehidupan kita ada karya ataupun hasil berharga yang mampu kita tinggalkan. Tentu saja tidak perlu yang heboh dan spektakuler.

Sumber: Filosofi Pensil oleh Anthony Dio Martin

Sepiku dalam Ruang Isolasi


Disini,

Diruangan yang sepi, sendiri

Berteman dengan lirih lagu yang mendayu-dayu

Sementara diluar sana, hiruk pikuk dan lalu lalang kendaraan terus mewarnai kehidupan

Disini,

Diruangan ini, hanya sepi yang kutemani

Pikiranku melayang, mengenang masa yang tlah terlewati

Berdua, bersama, tertawa dan bercinta

Disini,

Diruangan ini, Cuma ada aku

Sambil menunggu berlalunya waktu Waktu yang tlah kukecewakan

Disini,

Diruangan ini, terbayang semua kenangan

Bodohnya aku yang tak mau menyadari

Hidup dan tanggungjawab dia tlah berubah

Smoga kudapat memperbaiki kesalahanku

Disini, Diruangan ini, kutetapkan hatiku

Kukan berubah demi sebuah harapan

Semoga Tuhan mendengar pintaku

Semoga hari-hari yang lalu dapat lagi kurasakan

Tangan, pipi, mata, senyum, amarah dan kerudung itu

Disini dan sepiku dalam ruang isolasi

Kusadari semua egoku terlalu tinggi

Air mataku bersuara dan bibirku hampa

Tuhan semoga kau mendengar lirihku……

for: someone

‘vieta’

%d blogger menyukai ini: